Gak Ono Waktu Selo

Minum Air ZamzamJarene, saiki awake dhewe iki urip ning jaman sing sarwo sibuk. Gak ono waktu ngganggur utowo selo. Kawit esuk mripat melek tekan wengi turu maneh rumangsane gaweyane awake dhewe iki ora bar-bar. Digarap saben dino yo ora entek-entek, malah ono wae. Malah kadang siji durung dirampungke, gaweyan liyane wis teko maneh. Jan-jane opo iki mung awakku dhewe opo yo podho karo sampeyan?

Aku kadang rumongso arep shalat ning awal wektu wae isih sibuk. Ngenteni selo, sidone kepungkur . Arep moco Qur’an wae mengko dhisik ngenteni selo. Sidone malah gak moco babar blas. Lan arep nglakoni opo, ngono, isih nggolek wektu selo. Akhire gak dilakoni.

Tapi yen tak pikir-pikir, tak kiro ora mung awakku dhewe. Menowo yo sampeyan semono ugo. Gur sopo ngerti sampeyan sing luwih pinter anggone ngatur wektune, mulane dadi krasa luwih jembar. Mulane aku kudu akeh sinau marang awakmu. Piye, bisa to… hehehe…

Aku njajal mikir sing rodo jero maneh. Opo bener nek awake dhewe iki wis sibuk. Koyone kok yo ora nganti semono. Bendino isih bisa heha-hehe ngguya-ngguyu. Olehe turu yo isih suwe. Kadang isih bisa dolan mrono-mrene yo nyatane klakon. Malah kadang isih bisa nonton tipi, nganggo suwi. Menowo malah ono sing isih sempet nonton sinetron sing episodene rakaru-karuan kae.

Mulane sejatine awake dhewe sing sibuk, lan ora duwe wektu, opo ojo-ojo pancen awake dhewe sing gak iso olehe ngatur wektu?. Mbok dijajal, nek ono adzan ndang mangkat ning mesjid, gek melu jamaah. Mbok dicobo, raketung sepisan opo pindho, jajal dipekso moco Qur’an saben dino. Kiro-kiro opo yo gawean liyane arep ora kegarap? Dijajal wae!

Wis, semono dhisik. Mugo-mugo awake dhewe tansah slamet bergas kwarasan. Tansah rahayu tanpo reridhu. Nuwun.

 

Dipublikasi di catatan kecil, ruang pena | Tag , , , | Meninggalkan komentar

Sambel Pete

petaiHaha… lama tak menulis di blog, aku ingin menulis yang ringan saja ah. Kamu suka pete nggak? Kalau kamu suka, berarti sama dengan aku. Demen sama yang namanya pete. Kalaupun kamu nggak suka, nggak papa juga. Berarti kamu sama dengan anak mbarepku. Antipati sama yang namanya pete. Jadi, kalau aku lagi makan pete, bisa bisa ‘diusir’ dari ruang makan olehnya, hihihi…

Tanggal 8 Mei lalu, mbokku (panggilan sayang utk ibuku seorang), datang ke rumah. Ditemani oleh bapakku, mereka seperti kebiasaannya, selalu mendadak kalau mau datang. Dengan dalih kangen cucu, tak ada yang bisa menggeser jadwal kedatangannya. Tapi, tidak cuma kangen cucu yang memang sudah beberapa bulan tak sua rupanya, pastinya juga kangen sama anak gantengnya (huwek!!!). Terbukti, mbokku tak lupa membawakan segandeng pete yang berjimlah 20 keris. Tau kalau aku suka sama pete.

Aku beruntung, itu adalah akhir pekan, bahkan pekan depannya ada beberapa tanggal yang dicetak merah oleh sipembuat tanggalan alias libur. Jadi punya kesempatan yang cukup untuk membuat resep kesukaanku: SAMBEL PETE. Nggak seru kan, kalau sarapan dengan sambel pete, lalu berangkat kerja. Bisa geger seantero kantor, haha… Celakanya, hanya aku satu-satunya yang harus menghabiskan pete itu, karena seisi rumah kagak pada suka. Jadi ya, apa daya, harus selesaikan tugas dengan baik. Lha, gimana nggak dinikmati, orang sudah repot-repot dibuatkan sambel pete special oleh cintaku (jeilah).

Tapiiiii… sepekan berikutnya ada yang aneh pada diriku. Aku batuk-batuk. Nah, batuknya sih biasa. Tapi mendadak jempol kakiku sakiiiit nggak ketulungan hingga nggak bisa tidur. Semaleman hanya gulang-guling menahan sakit. Mau teriak nggak pantes, lhawong sudah malam. Mau bangunin istri kok ya kasihan juga. Menunggu subuh begitu lama rasanya. Dan benar, subuh tiba, tapi aku hanya bisa shalat sambil duduk, karena jempol kaki kiriku tak mau diajak kompromi.

Tak lama berselang aku minta istriku antar ke dokter Budi Laksono, dokter langgananku. Jam 05.30 sampai di rumah dokter, eeeee malah dia nutup pintu praktek dan hanya ada seorang pasien yang pulang sambil nyeletuk “Pak dokter mau luar kota, jadi mau ditutup hari ini” katanya. Sejurus seketika aku teriak, “dokteeerrr… tolonglah, satu aja!!!” teriakku dari kejauhan sambil angkat tangan setinggi-tingginya. Mungkin melihat memelas wajahku, dokter itu kembali membuka sedikit rolling door yang kira2 hanya cukup untukku masuk. Tanpa babibuba, langsung aja diminta berbaring dan diperiksa kanan kiri atas bawah lengkap, plus diberikan obat. “Kenapa, dok?” tanyaku. “Paling as*m ur*t” jawabnya buru buru. Setelah itu aku pamit, dan dengan sigap dokter itu dengan mantap menutup klinik prakteknya.

Manteman semua, jadi kalau kamu suka sesuatu, janganlah berlebihan. Walaupun aku suka pete, tapi pete segandeng diselesaikan sendiri tentu over dosis. Dan yang namanya berlebihan itu pasti tidak baik. Jadi, mari kita sayangi tubuh kita, jaga kesehatannya. (Sambil ngelus dada menasehati diri sendiri… hihihi…). Apalagi manteman semua harus ingat kata pak ustadz, konon pete itu makruh. Nahlo!

Eh, tapi ngomomg-mgomomg jangan bilang-bilang ya kalau aku suka pete! Ntar pada tau, kan repot!

 

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Kamu Harus Sekolah!

Di pertengahan tahun saat aku duduk di kelas 3 sebuah SMP swasta yang terletak di kaki Gunung Sumbing, saya ditanya oleh salah seorang guruku. “Setelah lulus nanti, kamu akan melanjutkan kemana?” begitu kira-kira pertanyanya singkat.

Sebuah pertanyaan yang sangat berat untuk dijawab. Berat sekali. Seolah aku sudah bisa membayangkan, kalau nanti sekolah di SMA, aku tak tahu harus dibiayai dari mana. Sebuah kesadaran yang begitu saja menyelimuti dari situasi nyata dalam diri. Aku dengar sekolah semakin mahal dan aku sudah bisa membayangkan itu semua. “Aku tak akan melanjutkan, kok!” jawabku setelah lama mataku kosong.

Tak usah banyak penjelasan, guruku paham situasi apa yang terjadi. Tak lagi bertanya. Dia tahu persis keadaanku dan memang tak perlu diperjelas. Tapi aku bisa menangkap akan kekecewaan yang amat mendalam, saat aku selesai menjawab itu. Walaupun tampak diwajahnya seolah biasa saja. “Oke, mungkin kita pikirkan lain kali”, tukasnya sembari meninggalkanku yang juga masih lugu itu.

Lebih dari sebulan dari kejadian itu, kembali guruku itu menghampiriku. Mencoba untuk meyakinkanku bahwa sebenarnya aku bisa melanjutkan. Walaupun tak banyak percakapan, tapi aku bisa menangkap bahwa ia sangat yakin kalau aku bisa. Sementara aku seolah masih tak beranjak dari pesan otak bahwa sekolah lagi itu amat berat bagiku. Terutama hal biaya. Belum lagi kalau harus ke kota dan seabreg bayangan kerepotan pulang pergi dan seterusnya.

Aku masih merekam salah satu kata-kata guruku saat bekunya pandanganku. “Kalau kamu bisa masuk SMA 1 Blora, kamu harus sekolah!” pintanya. Aku tak bisa menjawab. “Blora?” pertanyaan yang langsung menyeruak dalam lintasan hatiku. Satu kata yang aku tak pernah mengenalnya. Sampai sebesar itu seolah kata itu kali pertama aku mendengarnya. Jangan tanya dimana dan bagaimana, aku tak tahu. Entah aku yang tak memperhatikan atau memang tak ada materi tentang itu, pelajaran geografi dari SD hingga SMP rasanya tak pernah menyinggung kata Blora itu.

Dari situlah pergulatan mulai berkecamuk yang semakin hari kian mengamuk dan begitu mengganggu pikiranku. Garis-garis lintasan pikiran itu semakin menebal. Berkali-kali aku bicarakan dengan kedua orang tua. Meski aku juga tak bisa menjelaskan dengan kata si Blora itu. Orang tuaku tak banyak memberikan pertimbangan selain terus mendoakan. Dan dari hari ke hari dilalui dengan dua tarikan besar antara berhenti atau lanjut. Membayangkan kata Blora yang tak pernah tercium indraku itu semakin menciutkan nyali, tapi saat yang sama membayangkan menjadi siswa berbaju putih abu-abu itu semakin membulatkan tekad.

Saat pengumuman UAN tiba, aku dinyatakan lulus dengan NEM tertingi di SMP itu. Berbekal nilai itu bara semakin menyala dan seolah nyali semakin tersulut dan membakar keyakinan bahwa pasti ada jalan. Yap, aku diterima di SMA 1 Blora! Dan aku mulai menyusuri belantara pendidikan di kota yang baru saja kumengerti itu.

Tapi itu semua rasanya biasa saja. Ada yang jauh lebih istimewa. Ya, dialah guruku yang mengantarkan aku ke Blora. Membuka ruang beranda pikiran akan pentingnya sekolah dan perjuangan. Terima kasih untuk guru terbaikku, Bu Dra. Siti Nur Aminah, yang telah memompa keyakinanku hingga aku terus menapaki  ruas perjalanan. Dan kini aku terus belajar di sekolah kehidupan. Doaku menyertaimu. Maafkan aku, bila hingga kini tak pernah berbakti.

Dipublikasi di Uncategorized | 1 Komentar

Waduh Gawat, Lupa!

Pelupa“Eh, masbro! Kenapa semalam tak datang di acaraku?” Tanya seseorang kepada koleganya. “Waduuuh, iya, saya lupa!” jawab temannya singkat. *gubraaakkk*

Nahlo, gimana nih dengan kebiasaan lupa. Semua orang pasti pernah mengalaminya. Bahkan sampai ada yang di ‘vonis’ pelupa. Waduh, gawat! Tapi ternyata, lupa juga ada manfaatnya juga lho! Apa aja ya? Baca lebih lanjut

Dipublikasi di catatan kecil, ruang pena | Tag , , | Meninggalkan komentar

Memperbaiki Mindset Kita

Catsmob.com - The coolest pics on the net!Ada banyak perkara dalam kamus kehidupan kita ini yang muaranya ada pada persepsi kita tentang sesuatu. Kemudian persepsi itu terbentuk kuat hingga di bawah alam sadar kita. Dari alam bawah sadar tersebut kemudian keluar dan muncul menjadi kenyataan-kenyataan di depan mata. Dari sebuah persepsi yang mungkin abstrak, kemudian menjelma sesuatu yang riil terjadi. Sebut saja dengan kata ‘jauh’.

Sebenarnya berapa jarak suatu tempat sehingga kita harus mengatakan jauh? Sebagian orang akan mengatakan Semarang-Jakarta itu adalah jarak yang jauh, karena kalau dia pergi dengan kereta api bisa menghabiskan waktu lebih dari 6 jam. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di catatan kecil, ruang pena | Tag , | Meninggalkan komentar

Dua Doa di Masa Kecil

KelengkengKampung tempat tinggalku saat kanak-kanak bertepatan dengan lereng Gunung Sumbing yang begitu sejuk. Bagi sebagian orang bilang sangat dingin. Kalau aku pulang kampung, istri dan anak-anakku hampir selalu kedinginan. Ketinggiannya sekitar 1500 dpal. Daerah yang juga berbukit, menjadikan kampungku itu begitu alami dan lebat dengan pepohonan. Banyak pohon buah-buahan tumbuh dengan baik di atas tanah kampungku.
Nah, salah satu pohon yang banyak dimiliki warga di pekarangan rumahnya adalah pohon kelengkeng. Ya, kelengkeng yang sangat manis. Bisa-bisa mengalahkan klengkeng Bandungan yang dinyanyikan mas Didi Kempot itu. Lebih dari separuh warga di kampungku itu pasti memiliki pohon kelengkeng, bahkan bisa 2 sampai 5 pohon. Pohonnya sudah besar-besar. Kebayang kan, kalau musim kelengkeng, betapa melimpah buah itu di kampungku.
Baca lebih lanjut

Dipublikasi di catatan kecil, jaman cilik | Tag , , | Meninggalkan komentar

Selera

gumaya-tower-hotel-semarangIni adalah bab dari kitab yang bernama kehidupan. Setiap kehidupan seseorang memiliki selera. Dan selera seseorang, hampir saja menunjukkan kelas kehidupannya. Sehingga tak perlu heran bila kita menemui beras dengan harga yang sama di sebuah pasar, ketika dimasak menjadi nasi akan menjadi nasi dengan harga yang berbeda-beda saat disajikan di rumah makan yang berbeda. Dan kalau selera orang berbeda-beda, karena memang kelasnya berbeda pula. Itulah bagian dari romantika kehidupan.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di catatan kecil, ruang pena | Tag , | Meninggalkan komentar